Kamis, 04 Oktober 2012

Film Kantata Takwa

[ARTIKEL] Mengenal sosok Virgiawan Listanto atau lebih dikenal dengan iwan fals ketika masih dibangku SMP. Bukan Bento, ataupun Bongkar justru album Dalbo dan Anak Wayang yang membuat aku mulai mencari tahu tentang iwan fals. ”Dalbo itu anak genderuwo” demikian ujar temanku berkelakar. Dari dia aku banyak tahu tentang bang iwan, awal awal aku lebih suka membeli album the best dari pada albumnya. Ada alasan sebagai berikut, kalau the best lagunya bisa sampai 18 kalau yang album paling 10. lama kelamaan hampir semua the best dah aku punya. Mulailah aku ngumpulin lagu lagu yang belum pernah aku dengar dan itu biasanya ada di album. Album yang paling bekesan adalah Hijau sampai 2 kali aku beli karena sempat hilang, walaupun harus ”ngubek-ubek” seluruh solo untuk mendapatkannya. Selama pengumpulan kaset ada satu kaset bajakan, aku membeli album Cikal bukan original. Alesannya aku gak nemuin itu di toko kaset. Dan anehnya walaupun bajakan tapi covernya ada teks lagunya.... aneh. Oi...... Menunjuk iwan tak lepas dari Oi nya. Oi yang diplesetkan menjadi akronim dari Orang Indonesia. Padahal kalau rekan rekan ikut Munas Pertama Oi tanggal 16 Agustus Tahun1999 bang iwan menyebut Oi itu seruan, bisa seruan untuk berperang, bekerja dan lain – lain. Demikian kalau tidak salah kata kata beliau. Kebetulan pada munas Oi pertama aku termasuk 1 dari 6 kelompok Oi kota solo yang ikut hadir. Selain aku yang mewakili adalah, Hio Ariyanto, Baron dan Cepi dari Oi Bento house, serta Arief dan Budi dari Oi Pasoong. Jujur aku menyesal kenapa waktu tahun 1999 aku belum se”cerdas” sekarang. Mungkin disitu aku yang paling muda 17 tahun kala itu. Tidak pernah terpikir di benak ku membangun sebuah hubungan dengan teman se Indonesia. Kala itu hanya berpikir bertemu iwan, salaman, photo, minta tanda tangan. Ada kejadian unik mengenai photo. Kalau rekan tahu dulu sebelum dan sesudah munas Iwan punya Nazar tidak mau berphoto di dalam area rumah. Photo boleh dilaksanakan asal diluar area rumah. Yang menarik pada saat prosesi penyerahan hadiah termasuk kepada mas Hio sebagai pemenang lomba logo Oi juara 1 dan juara 2 ada rekan rekan Oi yang sebenarnya memotret para juara tapi iseng memotret iwan yang menyerahkan piala. Seketika itu juga iwan langsung berteriak, mungkin itu ledakan emosi darinya ketika para fans nya tidak bisa diberi tahu. Setelah itu seperti ada kesan hambar, terlihat jelas suasana penyesalan dari rekan rekan Oi semua. Mungkin guratan sesal itu terbaca oleh bang iwan. Dan akhirnya bang iwan sempat menyanyi bersama sama kita. Digo Menjadi Bintangnya Digo mungkin yang menjadi bintang kala itu, lagu ciptaan nya dijadikan mars Oi. Selain suara yang kirip wajahnya juga mencerminkan iwan dikala tahun 90an awal. Selain itu Tabloid Musik MuMu kala itu mewawancari salah seorang fans dari daerah sumatra (jambi kalau tidak salah) yang tunanetra. Sebuah loyalitas yang luar biasa. Hijrah Ke Jakarta.... Setelah lulus STM aku meneruskan kuliah dijakarta, jujur disini sebenarnya ada peluang besar untuk kembali aktif di Oi. Akan tetapi aku mencari cari Oi disekitaran tempat tinggalku ternyata tidak ada, ada korwil tanggerang letaknya lumayan jauh. Akhirnya kecintaanku terhadap Oi mulai pudar. Akan tetapi spirit Iwan dan kecintaan ku terhadap iwan masih ada dan tetap akan ada. Gairah itu ada lagi. Setelah beberapa bulan gagal untuk nonton dipanggung kita, film kantata akan segera tayang, kecintaan, euforia, fanatisme, atau apapun itu namanya. Terhadap iwan muncul kembali. Teringat konser konser megah kantata sebelumnya. Jadi salahkah aku kalau merindukan mu lagi idolaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar